Adalah kawasan camping ground di desa Colo kecamatan Dawe yang didalamnya terdapat petilasan mbah Ronggo kusumo. Tempat camping yang fasilitasnya cukup lengkap sehingga cocok untuk keluarga.
Sepuser | inkon paper | A4 | 2025
Adalah kawasan camping ground di desa Colo kecamatan Dawe yang didalamnya terdapat petilasan mbah Ronggo kusumo. Tempat camping yang fasilitasnya cukup lengkap sehingga cocok untuk keluarga.
Sepuser | inkon paper | A4 | 2025
Menjadi bagian dari wisata alam Desa Rahtawu berupa bukit dengan taman desa, kolam renang terbuka dan camping ground. Air terjun ini berada jauh dibawah dengan turun menyeberangi sungai. Jarang yang bersedia kemari karena medan yang masih alami dan cenderung berbahaya terutama saat air sungai sedang besar. Posisi air terjun yang di pinggir sungai, apalagi jalan menuju ke air terjun sendiri adalah sungai dimana air dari air terjun ini bertemu menjadi tempuran di hulu sungai Gelis ini.
Di sebelah timur waduk Logung memiliki aspek menarik karena kita berada di posisi yang agak lebih tinggi daripada view dari tempat pintu masuk yang biasanya. Jalan masuk yang masih berupa jalan tanah dan kawasan perkebunan warga yang beraneka tanaman palawija dan buah menjadi pemandangan selama perjalanan. Kebanyakan yang berada di daerah ini adalah para pemancing ikan kemungkinan karena jauh dari lalu lalang kapal boat wisata dan lebih teduh dengan bagian bagian tertentu berupa pepohonan besar.
Di Timur Logung | ink on paper | A4 | 2025
Kawasan Bukit Kajar Kudus saat ini adalah tempat wisata yang sedang populer. Terdapat berbagai macam kuliner, waterboom, Camping ground dan pondok penginapan. Namun tentu saja tempat itu terlalu mainstream padahal di kawasan belakang bukit Kajar terdapat jalur track menarik yang menuju sungai jauh di kaki bukit. Sesungguhnya jalur ini menarik dan tidak terlalu berat untuk wisata keluarga demi mengenalkan kepada anak anak tentang alam pegunungan berikut tetumbuhan.
Bukit Kajar | ink on kanvas | A4 | 2025
Yang dimaksud dengan kali Logung adalah kali keluaran dari bendungan Logung di desa Tanjungrejo kecamatan Jekulo, dalam peta Google dititik sebagai Jembatan Pelangi. Jadi arus air yang mengalir deras di sungai ini berasal langsung dari bendungan Logung yang berada di sebelah utara. Dari pinggir kali ini bangunan bendungan tampak dengan gagah dengan beraneka tanaman kebun sayuran dan buah milik warga. Bagi para pehobi memancing tempat ini ternyata adalah spot menarik.
Kali Logung | Ink on paper | A4 | 2025
Sendang yang terpaut erat dengan sosok pendiri desa sehingga selain sebagai sumber mata air sendang ini sekaligus bermakna sebagai punden desa. Terletak di Dukuh Pranak (Mranak), Desa Piji, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.
Depok berasal dari istilah padepokan atau tempat persinggahan dan menuntut ilmu. Menurut tradisi lisan warga Piji dawe dimana petilasan depokberada dulunya berupa gubug yang digunakan Sunan muria untuk istirahat dan memberikan wejangan kepada para pengikutnya. Namun petilasan ini juga erat terkait dengan sosok lokal Bernama mbah Ruji, sesepuh yang dihormati di Kawasan Piji wetan.
Petilasan Mangkubumi di Desa Menawan, Gebog, Kudus, berpusat di Punden Mangkubumi Joyo Kusumo . Situs ini diyakini sebagai masyarakat tempat persinggahan dan pertapaan Begawan Mangkubumi Joyo Kusumo, tokoh spiritual dan leluhur yang berjasa menyebarkan nilai-nilai moral serta ajaran spiritual di wilayah tersebut
Menggambarkan suasana sendang Jodo di kawasan Desa Purworejo Bae Kudus. Berdasarkan cerita tutur, sendang ini berkaitan erat dengan seorang putri raja yang cantik di masa lampau bernama den Ayu Sunthi yang sering mandi di lokasi tersebut. Cerita rakyat yang berkembang menyebutkan bahwa sendang ini dulunya sering digunakan mandi oleh para bidadari dari kayangan. Airnya dipercaya dapat membuat orang awet muda dan segera mendapatkan jodoh. Pada masa lalu, sendang ini sering digunakan sebagai tempat tirakat. Pengunjung biasanya mandi atau membasuh diri di mata air dengan harapan dimudahkan dalam mencari pasangan hidup.
Den Ayu Sunthi | Ink on paper | A4 | 2025
Mengisahkan tentang kawasan persawahan desa Karangrowo Kudus yang sering tergenang seolah menjadi rawa di musim hujan dengan curah hujan yang tinggi.
Kedua yoni ini terletak di halaman perumahan kompleks Koramil Modjo Sragen yang berada di selatan Pasar Bunder. Yoni yang tanpa cerat memiliki ukuran bujursangkar 58 cm x 58 cm dan tinggi 47 cm dengan lubang untuk lingga berukuran 20 cm x 19 cm dengan kedalaman 31 cm. Sedangkan Yoni yang masih memiliki cerat memiliki bentuk bujur sangkar 55cmx 55cm dan tinggi 57 cm dengan lubang lingga berukuran 16cmx 15cm dengan kedalaman 26 cm. Tinggalan ini merupakan sisa masa klasik (Hindu dan Buddha) yang berhubungan dengan kesuburan. Yoni merupakan pergantian dewi Parvati istri Dewa Shiwa. Kalau di dalam candi Hindu Yonni akan berpasangan dengan lingga berperan sebagai Dewa Shiwa. Di kabupaten Sragen banyak ditemukan yoni yang berdiri sendiri, hal ini dikaitkan dengan ritus pemujaan yang menjanjikan kesuburan lahan agar panen berhasil. Ritus Dahulu ini dilakukan pada saat hendak cocok ditanam, dan pada masyarakat Jawa yang dikenal dengan Dewi Sri sang Dewi Kesuburan. Kedua Yonni ini memiliki bentuk yang sangat sederhana, persegi masif nyaris tanpa motif hiasan apapun dan pembuatannya tidak dikerjakan secara halus hingga berkesan kaku. Selain kedua Yonni tersebut ada satu arca Durga Mahisa Suramardhini yang sepertinya belum selesai atau belum selesai dikerjakan. Arca Durga ini berada di samping Yonni, ada kemungkinan benda cagar budaya ini tidak ada di tempatnya, kemungkinan dikumpulkan dari beberapa daerah. Durga Mahisa Sura Mardhini yang merupakan gabungan dari kata Durga, Asura dan Mardhini. Arca Durga memiliki banyak tangan lebih dari 8, 12 atau pada beberapa Arca hingga 16. Dewi Durga adalah nama sakti atau istri Dewa Shiwa, Mahisa adalah kerbau, Asura raksasa sedang Mardhini berarti menghancurkan atau membunuh. Jadi Durga Mahisa Suramardhini berarti Dewi Durga yang sedang membunuh raksasa yang ada di dalam tubuh seekor kerbau. Durga merupakan tokoh dewi yang terkenal di India dan sangat dippuja dalam agama Hindu. Durga sebagai dewi digambarkan sedang membawa senjata. Tangan atasnya membawa cakra yang dibekali oleh Dewa Wishnu. Juga membawa pedang yang panjang dan busur panah dengan mata panahnya. Tangan sebelah kanan menarik ekor kerbau ( Mahisa yang sudah mati). Tangan kiri menjambak rambut Asura, tangan lainnya membawa Pitaka (perisai) dan Cangka (Cangkang kerang mempersembahkan Dewa Wishnu). Durga digambarkan dalam adegan kemenangan setelah berhasil mengalahkan Asura yang berubah bentuk seperti kerbau sangat besar.
Kali Ndayung terletak di Desa Bate Alit, Jepara. Sebuah tempat wisata alam berupa lembah yang di bawahnya terdapat pertemuan dua sungai atau tempuran. Konon masing masing sungai ini berasal dari Kudus dan Jepara sendiri. Sebuah endapan diantara dua sungai itu sebelum bertemu menjadi tempat spot wisata. Ada banyak batuan besar alami dengan diselingi pohon pohon cukup besar. Kesannya seperti taman taman bergaya Jepang namun memang terbentuk secara alamiah. Secara fasilitas wisata untuk keluarga hampir semua telah ada, misalnya MCK, pondok pondok gezebo, aula, warung dan mushola. Hanya infrastruktur jalan masih apa adanya, perlu upaya agak lumayan untuk sampai ke tempat ini dari gerbang loket karena jalanan tanah yang berkontur naik turun dan berkelok. Sebetulnya gerbang loket sendiri adalah sebuah hutan wisata yang cukup besar namun kebanyakan wisatawan lebih memilih ke sungai dan camping di situ walaupun listrik saat artikel ini diposting belum ada.
Sendang Gayam ini berada satu jurusan dengan Sendang Mranak atau Kamulyan hanya letaknya berada di tengah ladang di sisi utara jalan menuju Sendang Mranak. Bukan sendang besar namun kecil saja dan hanya dipakai oleh para peladang untuk sekedar membasuh muka atau mandi. Namun sendang ini justru menghadirkan kesan alami yang apa adanya. Berada di sini seolah menemukan oase kecil ditengah ladang tebu. Tepatnya berada di desa Piji Dawe Kudus.
Sendang Ngecis berada di Desa Piji kecamatan Dawe Kudus. Sendang desa ini merupakan salah satu dari beberapa sendang desa. Posisinya di tengah ladang yang menonjol oleh gerumbulan pohon besar. Saat sktesa dilakukan masih dalam kondisi musim kemarau namun air belik masih melimpah. Banyak warga yang setia memanfaatkan airnya yang jernih untuk mandi dan mencuci atau bahkan sekedar untuk istirahat melepas lelah di tengah cuaca yang terik. Pada malam malam tertentu ada saja orang yang sengaja melakukan tirakat spiritual disini karena sendang ini oleh warga dipercaya sebagai punden Mbah Layur.