Friday, February 14, 2025

Pasar Dan Lingga

 Kedua yoni ini terletak di halaman perumahan kompleks Koramil Modjo Sragen yang berada di selatan Pasar Bunder. Yoni yang tanpa cerat memiliki ukuran bujursangkar 58 cm x 58 cm dan tinggi 47 cm dengan lubang untuk lingga berukuran 20 cm x 19 cm dengan kedalaman 31 cm. Sedangkan Yoni yang masih memiliki cerat memiliki bentuk bujur sangkar 55cmx 55cm dan tinggi 57 cm dengan lubang lingga berukuran 16cmx 15cm dengan kedalaman 26 cm. Tinggalan ini merupakan sisa masa klasik (Hindu dan Buddha) yang berhubungan dengan kesuburan. Yoni merupakan pergantian dewi Parvati istri Dewa Shiwa. Kalau di dalam candi Hindu Yonni akan berpasangan dengan lingga berperan sebagai Dewa Shiwa. Di kabupaten Sragen banyak ditemukan yoni yang berdiri sendiri, hal ini dikaitkan dengan ritus pemujaan yang menjanjikan kesuburan lahan agar panen berhasil. Ritus Dahulu ini dilakukan pada saat hendak cocok ditanam, dan pada masyarakat Jawa yang dikenal dengan Dewi Sri sang Dewi Kesuburan. Kedua Yonni ini memiliki bentuk yang sangat sederhana, persegi masif nyaris tanpa motif hiasan apapun dan pembuatannya tidak dikerjakan secara halus hingga berkesan kaku. Selain kedua Yonni tersebut ada satu arca Durga Mahisa Suramardhini yang sepertinya belum selesai atau belum selesai dikerjakan. Arca Durga ini berada di samping Yonni, ada kemungkinan benda cagar budaya ini tidak ada di tempatnya, kemungkinan dikumpulkan dari beberapa daerah. Durga Mahisa Sura Mardhini yang merupakan gabungan dari kata Durga, Asura dan Mardhini. Arca Durga memiliki banyak tangan lebih dari 8, 12 atau pada beberapa Arca hingga 16. Dewi Durga adalah nama sakti atau istri Dewa Shiwa, Mahisa adalah kerbau, Asura raksasa sedang Mardhini berarti menghancurkan atau membunuh. Jadi Durga Mahisa Suramardhini berarti Dewi Durga yang sedang membunuh raksasa yang ada di dalam tubuh seekor kerbau. Durga merupakan tokoh dewi yang terkenal di India dan sangat dippuja dalam agama Hindu. Durga sebagai dewi digambarkan sedang membawa senjata. Tangan atasnya membawa cakra yang dibekali oleh Dewa Wishnu. Juga membawa pedang yang panjang dan busur panah dengan mata panahnya. Tangan sebelah kanan menarik ekor kerbau ( Mahisa yang sudah mati). Tangan kiri menjambak rambut Asura, tangan lainnya membawa Pitaka (perisai) dan Cangka (Cangkang kerang mempersembahkan Dewa Wishnu). Durga digambarkan dalam adegan kemenangan setelah berhasil mengalahkan Asura yang berubah bentuk seperti kerbau sangat besar.

Saluran Tantu Mandala



Pasar dan Lingga | Ink on Paper | 32 X 23.5 cm | 2024

Friday, November 15, 2024

Punden Mbah Ageng Paleh

Di kampung halaman Mojo Wetan, Sragen memiliki dua punden desa yaitu Mbah Ageng Paleh dan Mbah Krandah. Namun kami lebih dekat dengan Mbah Paleh yang letaknya di ujung jalan depan rumah sisi barat pas tembok berpintu merah milik PG Mojo. Sekarang pintu ini ditutup sehingga jalan itu menjadi buntu. Tepat disebelah kanan pintu itu ada gang kecil ke utara masuk sedikit saja akan ditemui pohon besar yang dibawahnya terdapat nisan makam Mbah Ageng Paleh. 
Punden ini dikelilingi pagar tembok pabrik dan rumah warga hingga secara teknis punden ini berada dekat sekali dengan area pabrik Gula Mojo. Dahulu kala pagar tembok itu mungkin tidak ada sehingga pohon besar dan makam Mbah Paleh ini berada di depan pabrik. Ada sebagian karyawan keturunan Tionghoa yang melaksanakan tradisi ritual Ceng Beng di makam Mbah Paleh. Ceng Beng sendiri adalah ritual penghormatan terhadap leluhur dan telah berusia ribuan tahun. Pada gilirannya tradisi Ceng Beng ini berasimilasi dengan tradisi 'metik pari' yang dalam konteks PG Mojo adalah panen pertama berupa sepasang pohon tebu yang di anggap sebagai tebu pengantin. Pada hari ritual di makam Mbah Paleh ini malam harinya digelar pertunjukan wayang kulit. Dari sinilah kemudian perayaan selamatan tebu pengantin itu namanya berubah menjadi Cembengan. Kini kita lebih mengenalnya sebagai even pasar malam yang merayakan awal giling atau produksi pabrik gula.






Camping di Kali Ndayung

 Kali Ndayung terletak di Desa Bate Alit, Jepara. Sebuah tempat wisata alam berupa lembah yang di bawahnya terdapat pertemuan dua sungai atau tempuran. Konon masing masing sungai ini berasal dari Kudus dan Jepara sendiri. Sebuah endapan diantara dua sungai itu sebelum bertemu menjadi tempat spot wisata. Ada banyak batuan besar alami dengan diselingi pohon pohon cukup besar. Kesannya seperti taman taman bergaya Jepang namun memang terbentuk secara alamiah. Secara fasilitas wisata untuk keluarga hampir semua telah ada, misalnya MCK, pondok pondok gezebo, aula, warung dan mushola. Hanya infrastruktur jalan masih apa adanya, perlu upaya agak lumayan untuk sampai ke tempat ini dari gerbang loket karena jalanan tanah yang berkontur naik turun dan berkelok. Sebetulnya gerbang loket sendiri adalah sebuah hutan wisata yang cukup besar namun kebanyakan wisatawan lebih memilih ke sungai dan camping di situ walaupun listrik saat artikel ini diposting belum ada.

Link Video :







Thursday, November 7, 2024

Belik/ Sendang Gayam

 Sendang Gayam ini berada satu jurusan dengan Sendang Mranak atau Kamulyan hanya letaknya berada di tengah ladang di sisi utara jalan menuju Sendang Mranak. Bukan sendang besar namun kecil saja dan hanya dipakai oleh para peladang untuk sekedar membasuh muka atau mandi. Namun sendang ini justru menghadirkan kesan alami yang apa adanya. Berada di sini seolah menemukan oase kecil ditengah ladang tebu. Tepatnya berada di desa Piji Dawe Kudus.






Friday, October 25, 2024

Belik/ Sendang Ngecis

 Sendang Ngecis berada di Desa Piji kecamatan Dawe Kudus. Sendang desa ini merupakan salah satu dari beberapa sendang desa. Posisinya di tengah ladang yang menonjol oleh gerumbulan pohon besar. Saat sktesa dilakukan masih dalam kondisi musim kemarau namun air belik masih melimpah. Banyak warga yang setia memanfaatkan airnya yang jernih untuk mandi dan mencuci atau bahkan sekedar untuk istirahat melepas lelah di tengah cuaca yang terik. Pada malam malam tertentu ada saja orang yang sengaja melakukan tirakat spiritual disini karena sendang ini oleh warga dipercaya sebagai punden Mbah Layur.








Tuesday, October 8, 2024

Gedung Kolonial Belanda Eks Rumah Dinas PG Besito

 Yang ada di hadapan kami tinggal dua gedung yang kondisinya cukup terlantar. Bekas rumah dinas PG Besito Kudus yang adalah pabrik gula pertama di Kudus ini pernah menjadi Kantor Polisi wilayah sektor Gebog. Sedangkan Pabrik gulanya berada di depannya sekarang adalah tubantia hingga pertengahan 90an dan pada akhirnya berganti kepemilikan menjadi sritex perusahaan asal sukoharjo. Bangunan yang berada di sisi utara jendelanya dalam kondisi terbuka namun kemudian ditutup dari dalam oleh sosok wanita muda. Nampaknya bangunan tua itu ada penghuninya karena beberapa saat sebelumnya juga ada mobil berwarna putih masuk ke garasi di samping rumah.








Saturday, August 24, 2024

Solo Camping Bukit Puteran

 Berkemah di puncak bukit dengan pemandangan lampu kota paling indah. Bukit ini tidak jauh dari tempat ziarah Sunan Muria tepatnya berada di bawahnya. Dari bukit yang tidak besar ini akan menyajikan pemandangan berbeda dari kota Kudus, Jawa tengah dengan tebaran kelap kelip lampunya saat malam hari. Pengunjungnya ramai saat weekend baik yang camping maupun yang sekedar berkumpul untuk makan bersama. Bagi pengunjung keluarga terdapat cafe berikut MCK yang cukup bersih.

Video Perkemahan Bukit Puteran







Monday, July 15, 2024

Pulau Panjang

  Pulau Panjang, sebuah pulau wisata yang terletak di Jepara. Untuk ke pulau ini kami berangkat dari pantai Kartini. Ada dermaga kecil dengan armada perahu nelayan yang dimodifikasi menjadi perahu penumpang. Perjalanan tidak sampai setengah jam kami mendarat di dermaga kedatangan dari pantai kartini. Dermaga lainnya khusus untuk kedatangan dari arah pantai Bandengan. Pulau ini kecil namun cukup memiliki prasarana yang lengkap.

Link Tautan Youtube

















Bukit Sepuser

Camping kali ini bermaksud untuk memakai kompor hasil modifikasi dari kompor parafin. Oleh karena itu saya hendak menggunakan bahan bakar bunga pinus maka campir sengaja mencari camping ground yang terdapat pepohonan pinus. Beruntung terdapat sangat banyak bunga pinus yang berserakan di tanah. Bunga pinus sangat mudah terbakar sehingga harus dikumpulkan relatif banyak. Tengah malam menjelang dini hari hujan turun cukup deras namun suasana menjadi lebih segar. Hal itu sangat terasa saat pagi hari.

Tautan Link Youtube








Tuesday, July 9, 2024

Camping di Atas Bukit dengan Tenda Tua | Tenggir Park

 Kali ini Camping solo di taman Tenggir, sebuah kawasan wisata di dekat candi Sukuh. Terletak di desa Berjo kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar. Tempat berkemah berada di ujung kawasan yaitu sebuah puncak bukit dengan pemandangan yang indah. Karena saat itu bulan puasa tidak ada seorang pun yang berkemah terutama di puncak bukit ini.

Link audio visual Youtube







Camping Hutan Pinus Segoro Gunung

 Saat camping ini kondisi cuaca sebenarnya sedang buruk namun dengan tenda tua dengan flysheet rasanya cukup membuat percaya diri. Camping ground bumi perkemahan Segoro Gunung, Kemuning Ngargoyoso, Karanganyar sangat sepi hanya ada satu mobil di depan sekali dan dua anak remaja yang mengundurkan diri tepat jam 20.00 malam. Praktis lokasi saya yang berada hampir di ujung area adalah tempat yang sunyi senyap. Namun kehidupan alam bebas adalah saat yang selalu dirindukan, kesendirian adalah situasi yang menjadi mahal. Pagi hari adalah saat paling indah selain karena hawanya yang segar kawanan monyet berteriak bergelantungan di ujung dahan pepohonan. Sungguh kehidupan alam bebas yang sangat bermakna.

Link audio visual Youtube







Air Terjun Rawan Banjir, Prawoto

 Berawal dari rasa penasaran kami pada keberadaan air terjun alami di desa Prawoto yang orang orang menyebutnya sbegai air terjun Prawoto atau air terjun Prawoto. Lokasi air terjun ada di pegunungan Kendeng tepatnya di kaki gunung Kendeng. Letaknya yang di bawah inilah yang membuat kawasan ini menjadi titik akhir limpahan air hujan yang datang dari daerah atas. Menurut warga harus ekstra hati hati berada di air terjun ini karena air hujan akan sangat deras dan memenuhi seluruh area di depannya. Sebetulnya air terjun ini berada di pinggir lintasan sungai buatan yang secara teknis menjadi pengendali banjir Jalur JratunSeluna. Pengunjung akan melewati pertemuan sungai airterjun dan sungai buatan sehingga jalan menuju ke sini adalah tanggul sungai.


Link audio visual Youtube