Friday, June 22, 2012

Asal Usul Seni Rupa Modern Indonesia





Pengarang : Jakob Sumardjo
Penerbit : Kelir, Bandung
Jumlah halaman : xxii+168
ISBN : 979-97717-1-18
Ukuran : 21 x13,4 Cm
Tahun terbit : 2009
Peninjau : Agus Cahyana












     Membicarakan sejarah seni rupa modern di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Barat, seiring dengan kolonialisasi Nusantara oleh Barat. Bila mengacu pada pendapat Sanento Yuliman, masa seni rupa modern dirintis oleh Raden Saleh yang mulai melukis dengan cara-cara Barat. Melukis cara seperti ini tentu berbeda dengan cara melukis yang biasa dipakai para kriawan tradisional. Oleh karenanya Sanento Yuliman menempatkan Raden Saleh sebagai perintis seni rupa modern Indonesia. Hal ini tentu masih menyisakan pertanyaan mengenai waktu dimulainya seni rupa modern di Indonesia.

     Melalui buku Asal Usul Seni Rupa Modern Indonesia, Jakob Sumardjo melihat dari sudut pandang lain mengenai perkembangan seni rupa modern Indonesia melalui geneologi, yaitu menelusur asal usul pembentukan awal seorang seniman, yang meskipun kemudian, dalam perkembangan kreativitas pribadinya, ia dapat menolak, menerima, atau merubah apa yang semula diajarkan sebagai ”seni rupa” yang seharusnya. Sikap demikian akan itu akan terlihat dari karya-karya monografi. Dengan meneliti melalui alur geneologi ini akan menghasilkan tulisan yang berbeda dengan penulisan sejarah seni rupa, karena beberapa nama dan peristiwa yang berada di luar alur asal usul tidak dibicarakan. Arus besar pembelajaran yang mengakibatkan lahirnya seniman-seniman besar Indonesia inilah yang menjadi fokus.
     Dengan mengacu pada pendekatan geneologi, maka pembahasan sejarah dibagi berdasarkan kurun waktu, yaitu Seni Rupa Zaman Kolonial (1600 – 1950), Para Pemula Seni Rupa Modern, Seni Rupa Bali Modern, Para Perintis Seni Rupa Modern Indonesia. Akademi Seni Rupa, dan Seni Rupa Kontemporer Indonesia. Pada bab berjudul Seni Rupa Zaman Kolonial, dijelaskan mengenai hubungan tema dalam lukisan dengan penjajahan Belanda yang memosisikan Indonesia sebagai obyek turisme. Selain itu, dibahas juga kaitannya dengan kemunculan Raden Saleh dan peranannya dalam perkembangan seni rupa Indonesia. Bagian terakhir dijelaskan mengenai latar belakang kecenderungan tema naturalis yang menjadi gaya yang dianut oleh para pelukis dari Eropa yang banyak melukiskan tentang keadaan alam di Indonesia.
     Para pemula seni rupa modern dikatakan adalah para pelukis yang meneruskan gaya melukis masa kolonial, yang lebih dikenal dengan ”mooi indie”. Para senimannya antara lain adalah Mas Pirngadie, Abdullah Suriosoebroto, dan Wakidi, sebagian seniman pemula seni rupa modern ini berguru pada seniman-seniman tidak berkelas di tingkat dunia, kecuali Abdullah Soeriosoebroto yang sempat belajar di Belanda. Pada bagian ini diuraikan mengenai latar belakang mengapa para seniman ini kemudian memakai gaya natutalis dalam menggambarkan pemandangan alam yang indah di Indonesia. Gaya lukisan Mooi Indie yang mengambil obyek pemandangan alam, manusia, legenda suku secara impresionistik, representatif, obyektif yang berkembang sejak awal abad ke-20, ternyata masih hidup terus setelah kemerdekaan sejajar dengan gaya-gaya yang lebih mutakhir.
     Pada bab tentang Seni Rupa Bali Modern, Jakob Sumardjo memulai dari ketertarikan orang Barat terhadap kehidupan dan keindahan alam Bali sudah berlangsung sebelum Bali dikuasai Belanda. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya buku-buku tentang Bali yang terbit di Eropa yang kemudian mendorong para seniman dan antropolog untuk datang dan tinggal di Bali. Julukan ”surga terakhir di dunia” disematkan Barat menjadikan Bali semakin populer. Hadirnya seniman Barat sangat berpengaruh terhadap tradisi seni rupa di Bali, terutama seni lukis, dimana seni tradisi yang kuat mengakar dapat mengadopsi seni Barat dengan unik, yaitu tanpa menghilangkan kekhasan perupaan tradisional. Kekuatan tradisi inilah yang membedakan seni rupa Bali modern dengan seni rupa modern Indonesia yang terdapat di Jawa. Tokoh penting dari proses modernisasi ini adalah Walter Spies dan Rudolf Bonnet, yang mengenalkan seniman Bali pada tradisi seni Barat tanpa menghilangkan kekhasan lokal, dimana drawing, naratif kehidupan sehari-hari atau mitologi, dan unsur dekoratif tetap dipertahankan. Melalui kelompok Pita Maha yang didirikan oleh raja Ubud, menjadikan karya seni rupa Bali menjadi terkenal di seluruh dunia. Seiring dengan perkembangan zaman, lambat laun seni rupa Bali modern mulai sejalan dengan seni rupa Indonesia lainnya, tanpa kehilangan kekhasan seni Bali.
     Para Perintis Seni Rupa Modern Indonesia dipelopori oleh dua kelompok dari dua kota, pertama, kelompok 5 dari Bandung yang dimotori oleh Affandi dan kelompok Persagi yang dimotori oleh S.Sudjojono, dalam perkembangan selanjutnya kelompok Persagi lah yang berperan lebih menonjol dalam mengutarakan konsep berkesenian serta permasalahan identitas keindonesiaan. Seperti pada bahasan sebelumnya, di bagian ini diuraikan juga tentang riwayat hidup para pelukis perintis ini, bahkan beberapa seniman penting di luar kelompok pun dibahas sehingga kita bisa melihat secara lebih mendalam mengenai pemikiran dan karya mereka. Selanjutnya di bahas tokoh seniman-seniman yang aktif di masa Jepang dan masa revolusi kemerdekaan.
     Pembahasan seniman secara krologis diakhiri dengan munculnya akademi seni rupa yang akhirnya memunculkan seni rupa kontemporer Indonesia. Di bagian ini dijelaskan mengenai peran penting pendidikan tinggi seni rupa dalam mengembangkan seni rupa di Indonesia, yang berasal dari seni rupa ITB di Bandung dan ISI (ASRI) di Yogyakarta. Tokoh penting perupa lulusan perguruan tinggi ini diuraikan berdasarkan kecenderungan estetiknya, selain itu, tokoh-tokoh Gerakan Seni Rupa Baru yang memberi pengaruh terhadap cara pandang berkesenian juga turut diuraikan. Sedangkan pembahasan seni rupa kontemporer Indonesia, yang dianggap sebagai perkembangan paling mutakhir dari seni rupa Indonesia dimulai dari tahun 1980-an, ciri utama dari seni rupa kontemporer Indonesia adalah meleburnya kecenderungan ’identitas lokal’ yang melekat pada tiap pusat seni di Indonesia, antara Bandung, Yogya, dan Bali. Dengan peleburan ini menyebabkan semakin sulit untuk melihat asal geneologi mereka. Akhirnya menghasilkan generasi seniman yang terbuka terhadap segala perubahan. Fanatisme kelompok telah lenyap, yang ada hanyalah kompetisi kreatif individual.
     Menyimak uraian pada buku Jakob Sumardjo ini, dapat dikatakan telah memberi cara pandang lain dalam melihat alur sejarah seni rupa modern, yang biasanya dilihat secara kronologis dengan mengesampingkan aspek keunikan dan kekhasan tiap seniman. Oleh karenanya, buku ini menjadi penting untuk dijadikan rujukan untuk melengkapi penulisan sejarah seni rupa modern di Indonesia.
   



No comments:

Post a Comment

Post a Comment